Posted by: adhe putra | March 8, 2009

Sukarno (dalang), Suharto (super) Semar?

comunistDalam buku Antonie C. Dake yang berjudul The Devious Dalang (Dalang Penuh Tipu Daya) adalah buku yang memuat gagasan mengenai Sukarno yang ia tempatkan sebagai dalang, yang menunjuk PKI sebagai yang menempati posisi sebelah kiri sang dalang, atau sebagai pihak yang ‘salah’. Pembagian Kelir [layar untuk memainkan wayang kulit] antara Kurawa dan Pendawa saat ini seringkali dipakai untuk mewakili konflik antara kebaikan dan kejahatan. Namun demikian dengan adanya pemahaman yang lebih menyeluruh dan dengan adanya hubungan antara manusia yang bersifat kabur, dengan cerdik dapatlah terungkap bahwa sebenarnya keberadaan ‘kanan’ dan ‘kiri’ bukanlah sesuatu yang bersifat absolut. Dalam pementasan sebuah lakon wayang, hal ini akan tergantung apakah orang melihat wayang ataukah melihat bayang-bayangnya, yang kanan dapat menjadi kiri dan yang kiri dapat menjadi kanan.

PKI dipandang sebagai pihak yang memang ditempatkan di sebelah kiri dalang, yang merupakan tempat kurawa, yang bersifat angkara murka. Aidit, sebagaimana dengan Natsir dan Sjahrir, dilihat sebagai orang-orang berasal dari negeri ‘antah berantah (ketiga orang ini kebetulan adalah bukan orang-orang Jawa) dan oleh karena itu lenyapnya mereka dari muka bumi – bersama-sama dengan partai-partai mereka – dipandang sebagai sesuatu yang dapat diterima, dan sebenarnya juga dianggap sebagai sesuatu hal yang tidak bakal dapat terhindarkan lagi sebagaimana yang telah dikatakan oleh ramalan-ramalan kuno yang diturunkan dari kedua cerita kepahlawanan tersebut (Mahabrata dan Ramayana).

Sedangkan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) – yang menjadi bukti dokumenter atas peralihan kekuasaan dari Sukarno kepada Suharto – pun di dalamnya memasukkan nama ‘Semar’ – yang merupakan tokoh dagelan dalam pewayangan dan merupakan seorang tokoh yang mewakili massa diduga untuk memberikan kesan pada dokumen tersebut akan adanya dukungan dari massa.

Bermula pada tahun 1955 seorang narasumber teringat suatu waktu, ketika ia bertemu Aidit ia berkata, “kalau kaum borjuis bisa begitu mudah melakukan kup, mengapa kaum komunis tidak?” (interviu 213). Manai Sophiaan (1994:66) mengatakan bahwa Aidit, sehubungan dengan kup di Aljazair oleh Boumedienne terhadap Ben Bella, telah mengembangkan suatu teori yang jelas non-Leninis. Aidit menyimpulkan, bahwa kup dapat menjadi revolusi, jika didukung oleh 30 % rakyat. Tentu saja Moskow sangat menentang pendapat seperti itu. Seperti teori Lenin mengatakan, bahwa revolusi tidak dapat diciptakan dari atas, tapi harus didukung rakyat, dan hanya terjadi jika “syarat-syarat objektif” telah matang dan masak.

Pada pertengahan 1965 ketegangan dalam masyarakat Indonesia mencapai puncaknya. Di pedesaan sejumlah aksi sepihak BTI, telah sangat mengacaukan berbagai hubungan sosial. Laju tingkat inflasi menyebabkan kemiskinan luar biasa. Hubungan antara pimpinan Angkatan Darat dengan PKI menjadi makin tegang, dan timbang masa sebelumnya Sukarno menjadi lebih condong ke pihak PKI. Konfrontasi dengan Malaysia dimanfaatkan PKI untuk mendesakkan gagasannya tentang “Angkatan ke Lima” pasukan milisi buruh dan tani.

Sukarno mengumumkan pembentukan “angkatan kelima” ini dalam pidatonya untuk 17 Agustus 1965, yang dipersiapkannya bersama Wakil Ketua II CC PKI Nyoto. Pada pertengahan September 1965 ia mengirim Laksamana Udara Omar Dhani ke Beijing, untuk mengatur penyerahan bantuan 100.000 senjata ringan bagi angkatan ini. Sementara itu sikap anti-Barat Sukarno karena dekat dengan sayap Beijing dan Moskow yang diwakili Aidit dan Nyoto, telah membangkitkan protes-protes massa, dan berakhir dengan penarikan diri Indonesia dari PBB.

Walau kandungan politik nasionalnya dinyatakan “sosialis”, namun kesenjangan antara kaya dan miskin makin luar biasa lebar. Beberapa jenderal Angkatan Darat berhasil menumpukkan kekayaan, dari berbagai perusahaan Belanda dan Inggris yang disita dan mereka kelola, dan PKI menggalakkan kampanye melawan para kabir itu. Hanya Sukarno yang tampaknya berhasil menguasai seluruh golongan masyarakat. Enam kali usaha pembunuhan terhadap Sukarno menyebabkan PKI menjadi cemas, jika suatu saat presiden tak lagi menjadi pelindung baginya.

Dirangkum dari
Komunisme ala Aidit
Kisah Partai Komunis Di Bawah Kepemimpinan
D.N Aidit oleh Peter Edman
dan
Penghancuran Gerakan Perempuan
di Indonesia oleh Saskia Eleonora Wieringa

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: