Posted by: adhe putra | November 10, 2008

PERAN INDIVIDU DALAM PERKEMBANGAN INFORMASI YANG TERJADI DALAM MASYARAKAT

The end of modernism tampaknya mengalami faktualisasi, menandai dimulainya time for against dan beranak-pinaknya jumlah informasi maupun media informasi. Dasar dari informasi maupun media informasi bersumber dari sebuah pemikiran yang mengambil tempat dari inti dasar dan cita-cita mereka untuk berani mengemukan pendapatnya melalui media informasi yang kemudian menjadi konsumsi informasi dari masyarakat. Dan siapakah para pemikir itu? Para akademisi, pers dan pengamat menyebutnya secara beragam.Dalam tulisan ini kita membatasi diri pada penelusuran jejak pencari informasi dan hubungan

mereka dengan modernisme serta sumbangannya dalam masyarakat informasi. Dalam Oxford English Dictionary, kata pencari informasi dimaknai sebagai pencari atau pemenuhan akan kebutuhan informasi yang menjadi dasar adalah perkembangan arus informasi yang terlalu cepat sehingga informasi bukanlah kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan tersier dan harus segera dipenuhi. Mereka yang layak disebut dengan pencari informasi adalah yang telah mengikuti arus perkembangan informasi atau jika disempitkan individu itu sendiri yang sedang memenuhi kebutuhan akan informasi. Sebagai anak kandung dari era informasi.

Zaman modernis dmulai dengan pengahancuran atas segala modernitas dengan menghadirkan kembali referensi perubahan masyarakat itu sendiri. Zaman yang menyebabkan manusia bimbang, bolak-balik dan berayun memilih atau mengabungkan otentitasdan modernitas, bagaimana menjadi individu yang informatif dizaman atau era informasi. Juga sebaliknya bagaimana menjadi masyarkat informasi tetapi tetap pada zaman atau era informasi. Ayunan inilah yang menjadi sumber kecemasan dalam pembahan yang dilakukan oleh Neil Postman bagaimana utnuk memilah informasi yang dilakukan oleh media informasi untuk tidak menjadikan era informasi ini banjir informasi. Zaman yang melahirkan peradaban baru, yang berujung pangkal dan berujung pada masyarakat informasi. Informasi yang mengobati dan menemani. Informasi yang membuat mereka sakit hati, kuat dan “memenangkan” pertarungan dengan dunia informasi yang kejam yang dapat menjadikan era ini banjir akan informasi.

Dengan memakai analogi dari aku berpikir maka aku ada informasi itu sendiri yang akan membentuk masyarakat informasi. Satu masyarakat yang lahir, hidup, berhadapan dan berusaha demi informasi untuk memenuhi kebutuhannya. Padahal absolutisas informasi adalah absolusitas yang terlalu bergairah tanpa kemanusiaan, tanpa dialog, tetapi penuh harapan akan informasi yang akan didapatkan. Dan dalam perjalanannya akhirnya adalah menghadirkan totalisme sebagai fakta terkuat dari sifat romantik sebagai karakter dasarnya. Dalam pandangan yang paling radikal, individu tidak dapat melahirkan solusi rasional dan logis, karena individu-individu tersebut dibutakan oleh informasi yang tertutup, pengkaburan informasi, dan mereka mengunci dirinya dalam prasangka-prasangka psikophobia terhadap orang-orang lain.

Masyarakat informasi ini mendesain dirinya dalam dua tipe. Pertama, sebagai paradigma pemikiran dan penghayatan sehingga informasi ini bersifat tertutup dan atau terdapat pengkaburan makna informasi itu sendiri. Kedua, sebagai metode analisis kritik solusi informasi. Keduanya adalah epistemologi yang dihadirkan sebagai langkah-langkah terorganisir demi penyelamatan dari informasi yang telah mengandung makna yang telah kabur. Penyelamatan informasi ini penting karena dianggap sebagai pembawaan cacat sekaligus ekses yang berlebihan sehingga dikhawatirkan akan merusak informasi yang akan dikonsumsi oleh individu, masyarakat informasi atau pencari informasi.

Asumsi bahwa informasi yang tersebar merupakan sumber kebenaran yang paling otentik dan abadi menurunkan sikap dan kesadaran individu bahwa bahwa peradaban atau era informasi ini hanya bisa dicapai secara hakiki bila didasarkan pada keyakinan berbasis informasi iut sendiri. Apabila informasi melanggar aturan dari arus informasi maka manusia atau setiap individu harus dapat mengendalikannya dan mengembalikannya dengan arah arus informasi yang benar sehingga tidak lagi banjir akan informasi, sebab informasi adalah merupakan petunjuk ke jalan yang tepat dan dijaga keaslian akan informasi tersebut. Meskipun tulisan ini bukan satu-satunya penjelas tentang sifat masyarakat informasi tapi, sekurangnya bisa membantu kita mengetahui bahwa peradaban atau era informasi ini adalah peradaban nyata dan sekaligus penyebab akan banjirnya informasi apabila tidak dapat dikelola dengan baik. Pada sisi yang berbeda kegairahan untuk mencari informasi ini bukan tanpa alasan. Sebuah pemikiran, kritik, tulisan maupun tindakan lahir menjadi informasi dan lahir sebagai reakis kritis dari paradigma perubahan sosial yang dipandang gagal menuntaskan proyek pencerahan apabila benar-benar terjadi banjir informasi dan menyebabkan munculnya patologi dalam era informasi. Para ilmuwan sosial setidaknya mencatat lima alasan penting terhadap era informasi ini. Pertama, era informasi dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan kemasa depan apabila benar-benar terjadi banjir informasi, yaitu kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh masyarakat. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri kesewenang-wenangang dan penyalah gunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Keempat, keyakinan ilmu-ilmu pengetahuan modern untuk memcahkan segala kebuntuan manusia ternyata keliru dengan munculnya patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi nilai sosial karena terlalu menekankan pada perkembangan arus informasi itu sendiri. Latar belakang ini menghapus landasan-landasan praktek dari era informasi untuk memenuhi janji emansipatoris yang dahulu pernah ada sebelumnya. Modernisasi yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas individu untuk membantu setiap pemenuhan kebutuhannya, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan serangan-serangan informasi yang terlalu berlebihan sehingga informasi ini akan susah untuk dikelola oleh setiap individunya

Campur tangan berlebihan dari dari Teknologi informasi

sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi teknologi informasi ini adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan, hobi, rekreasi, dan rohani. Kemudian untuk profesi seperti sains, teknologi, perdagangan, berita bisnis, dan asosiasi profesi. Sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya tanpa mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran. Intisari Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Perkembangan teknologi informasi memperlihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada teknologi ini, seperti e-government, e- commerce, e-education, e-medicine, e-laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika. Perkembangan Teknologi Informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Dan sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversiiy, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya Sampai dua ratus tahun yang lalu ekonomi dunia bersifat agraris dimana salah satu ciri utamanya adalah tanah merupakan faktor produksi yang paling dominan. Sesudah terjadi revolusi industri, dengan ditemukannya mesin uap, ekonomi global ber-evolusi ke arah ekonomi industri dengan ciri utamanya adalah modal sebagai faktor produksi yang paling penting. Menjelang peralihan abad sekarang inl, cenderung manusia menduduki tempat sentral dalam proses produksi, karena tahap ekonomi yang sedang kita masuki ini berdasar pada pengetahuan (knowledge based) dan berfokus pada informasi Dalam hal ini telekomunikasi dan informatika memegang

peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology). oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Namun, teknologi tetap akan memperlebar jurang antara di kaya dan si miskin. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa. Proses inilah yang membawa manusia ke dalam Masyarakat atau Ekonomi Informasi. Masyarakat baru ini juga sering disebut sebagai masyarakat pasca industri.

Tony Bates (1995), menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi. Alisjahbana I. (1966) mengemukakan bahwa pendekatan pendidikan dan pelatihan

nantinya akan bersifat “Saat itu juga (Just on Time)”. Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner. Apapun namanya, dalam era informasi, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi faktor dalam hubungan antar manusia atau antar lembaga usaha, sehingga jagad ini menjadi suatu dusun semesta atau “Global village”. Sehingga sering kita dengar istilah “jarak sudah mati” atau “distance is dead” Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan “Computer-based Multimedia Communication (CMC)” yang bersifat sinkron dan asinkron. makin lama makin nyata kebenarannya. Dari ramalan dan pandangan para cendikiawan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif.

Peran Teknologi Informasi dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi dan telekomunikasi merupakan sektor yang paling dominan. Siapa saja yang menguasai teknologi ini, maka dia akan menjadi pemimpin dalam dunianya. Teknologi informasi banyak berperan dalam bidang-bidang

Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia di masa mendatang slah satunya adalah Berkembangnya pendidikan terbuka dengan modus belajar jarak jauh Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka (Mukhopadhyay M., 1995). Sebagai contoh kita melihat di Perancis proyek “Flexible Learning”. Hal ini mengingatkan pada ramalan Ivan Illich awal tahun 70-an tentang “Pendidikan tanpa sekolah (Deschooling Society yang secara ekstrimnya guru tidak lagi diperlukan. (Distance Learning). Kemudahan untuk menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukan sebagai strategi utama.

lembaga pendidikan / latihan dalam sebuah jaringan perpustakaan & instrumen pendidikan lainnya (guru, laboratorium) berubah fungsi menjadi sumber informasi daripada sekedar rak buku. Penggunaan perangkat teknologi. Bishop G. (1989) meramalkan bahwa pendidikan masa mendatang akan bersifat luwes (flexible), terbuka, dan dapat diakses oleh siapapun juga yang memerlukan tanpa pandang faktor jenis, usia, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan informasi interaktif, seperti CD-ROM Multimedia, dalam pendidikan secara bertahap menggantikan TV dan Video. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka pada saat ini sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: