Posted by: adhe putra | December 21, 2008

Perang untuk Hari Valentine

Dalam tekanan postmodern masyarakat kekuasaan, perang adalah dipan. katarsis dan kehancuran memenangkan, tapi tidak menyembuhkan. krisis masa kini jauh lebih daripada masa lalu, dan karenanya solusi radikal yang ditawarkan kekuasaan buatnya, perang jauh lebih parah dari masa sebelumnya.

kini globalisasi akal-akalan terbesar dalam umat manusia, bahkan tidak memiliki kesantunan untuk mencoba menjustifikasi dirinya sendiri. ribuan tahun setelah lahirnya kata-kata dan seiring dengan mereka , argumen yang bernalar kekerasan sekali lagi menduduki tempat yang telak dan menentukan. didalam sejarah konsolidasi kekuasaan, kemampuan umat manusia untuk hidup harmonis telah menunjukkan koeksistensinya. sementara dalam perang, dikotomi “dominasi dan didominasi” kini telah merumuskan masyarakat dunia dan berusaha menjadi kriteria baru “umat manusia”, bahkan bagi kepingan yang berserakandalam masyarakat global. kekosongan yang ditinggalkan oleh negarawan diisi dalam hologram negara bangsa oleh manajer dan orang-orang baru. namun demikian, dalam tatanan modal yang jelas kelihatan,  tentara perusahaan  (sebuah generasi baru yang bukan hanya membaca dan menerapkan sun tzu, tapi juga memiliki perangkat material untuk melaksanakan gerak dan manuvernya) memasukkan perang militer untuk membedakan dariperang ekonomi, ideologi, psikologi, diplomatik dan perang-perang lainnya sebagai salah satu faktor lagi dalam strategi pemasaran mereka.

logika pasar (lebih banyak laba, selalu dan dengan biaya berapapun) diterapan dalam logika perang (hancurkan kapasitas tempur lawan). aturan internasional karenanya merintangi dan harus diabaikan dan dihancurkan. masa-masa justifikasi yang masuk akal usai sudah. bahkan sekarang tidak ada penekanan soal justifikasi “moral”  atau bahkan politik dalam perang. badan-badan internasional menjadi monumen berat dan sangat mubazir.

bagi masyarakat kekuasaan, umat manusia itu kalau tidak sebagai klien ya  sebagai penjahat.  guna memastikan mediokritas yang pertama dan mengenyahkan yang belakangan, politisi memberi topeng hukum bagi kekerasan yang tak sah kekuasaan. perang tidak lai memerlukan hukum untuk “menjustifikasi” atau mebekingnya. cukuplah ada politisi yang mencanangkan dan menanda tangani perintahnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: